Potret Pilu Nenek Tini: Hidup Sebatang Kara di Rumah Sempit Tanpa Listrik dan Air Bersih

GOWA, Mediain.id – Di balik kemegahan pembangunan yang terus berjalan, masih ada kisah pilu tentang kehidupan yang sangat memprihatinkan. Adalah Nenek Tini (67), seorang lansia yang tinggal seorang diri di rumah berukuran hanya sekitar 1,5 meter persegi di pinggir jalan poros Malino, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Hunian kecil berdinding Seng itu bahkan tidak memiliki listrik, toilet, maupun air bersih. Setiap malam, Nenek Tini menjalani hari-harinya dalam gelap.

Saat hendak salat, ia harus meraba-raba dinding dan lantai karena tidak ada penerangan di dalam rumahnya.

“Tidak ada lampu, jadi kalau salat biasa meraba-raba dulu, apalagi kalau malam,” tuturnya lirih.

Rumah yang ia tempati merupakan bantuan dari pemerintah setempat, dibangun dipinggir jalan di kawasan pompengan Jeneberang atas inisiatif warga dan pemerintah di wilayah itu.

Meski banyak pihak telah menawarinya tempat tinggal yang lebih layak, Nenek Tini menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan orang lain.

“Saya tidak mau merepotkan, saya mau sendiri,” katanya dengan suara tenang.

Meski demikian, Nenek yang sudah hidup sebatang kara itu juga mengaku ketakutan jika tiba malam hari.

Untuk keperluan mandi dan air minum, Nenek Tini mengambil air dari rumah tetangga untuk keperluan sehari-hari.

Dari pantauan di lokasi, rumah nenek Tini sangat sempit, ditambah banyaknya prabotan yang bertumpuk di rumah yang luasnya 1,5 meter persegi itu.

Sehari-harinya, ia bertahan hidup dari bantuan warga sekitar yang kerap mengantarkan makanan. Salah satunya adalah Sumiati, tetangga yang hampir setiap hari memperhatikannya.

“Makannya biasa saya antarkan, siang dan malam. Alhamdulillah, beliau jarang sakit,” ungkap Sumiati.

Kondisi ini menjadi perhatian Kapolres Gowa, AKBP M. Aldy Sulaeman, yang bersama UPZ Sulsel, Aryani melakukan bakti sosial di beberapa titik wilayah Gowa.

Saat mendatangi lokasi terakhir, mereka menemukan langsung kondisi memprihatinkan tempat tinggal Nenek Tini.

“Kondisinya memang sangat tidak layak huni. Kami berikan bantuan sembako seperti beras, minyak, gula, dan uang tunai untuk meringankan beban beliau,” ujar AKBP M. Aldy Sulaeman.

Meski hidup dalam keterbatasan, Nenek Tini tetap tegar dan enggan meninggalkan rumah kecilnya.

Dalam kesederhanaan itu, ia masih menyimpan rasa syukur dan keteguhan hati yang menjadi cermin ketulusan dan keikhlasan seorang manusia yang memilih bertahan tanpa mengeluh.

Comment