MAKASSAR, Mediain.id – Karies gigi atau gigi keropos masih menjadi masalah kesehatan umum yang banyak dialami anak-anak, termasuk santri di salah satu pondok pesantren di Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian tim pengusul kegiatan pengabdian masyarakat pada Selasa (28/10/2025).
Ketua Tim Pengusul Politeknik Kesehatan (Poltekes) Kementerian Kesehatan Makassar, Agus Supriatna menjelaskan bahwa kerusakan gigi terjadi akibat interaksi antara organisme, sisa makanan, dan zat asam yang mengikis lapisan enamel pada gigi.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kurangnya pengetahuan perawatan gigi, minimnya akses layanan kesehatan gigi, hingga rendahnya kesadaran menjaga kebersihan mulut,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Selasa (11/11/2025).
Adapun anggota tim pengusul yang terlibat yakni Fajar Yunus dan Jhony Angky.
Agus menjelaskan bahwa anak santri memiliki risiko karies yang lebih tinggi karena pola makan dan lingkungan yang terkadang tidak mendukung kebersihan gigi. Oleh karena itu, langkah pencegahan dinilai penting dilakukan sejak dini, termasuk mengurangi bakteri penyebab karies dan meningkatkan proses remineralisasi gigi.
Salah satu inovasi yang dilakukan tim adalah pembuatan obat kumur berbahan buah delima sebagai alternatif perawatan gigi yang lebih alami dan mudah dibuat.
“Buah delima dipilih karena memiliki sifat antibakteri dan antiplak yang efektif membantu mengurangi risiko karies gigi,” jelas Agus.
Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan kesehatan gigi, tetapi juga memberdayakan santri untuk dapat membuat sendiri obat kumur alami tersebut.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak santri tentang pentingnya merawat kesehatan gigi dan memberikan keterampilan praktis dalam pembuatan obat kumur dari buah delima.
“Serta mendorong pola konsumsi makanan yang lebih sehat dengan mengenalkan manfaat gizi buah delima,” tambahnya.
Selain membantu mencegah gigi keropos, kegiatan ini juga mengurangi ketergantungan terhadap produk kesehatan berbahan kimia dan mempererat hubungan antara santri serta komunitas sekitar.
Program pengabdian ini dilaksanakan melalui beberapa tahap, mulai dari survei dan konsultasi, penyusunan materi edukasi, pelatihan pembuatan obat kumur, hingga workshop dan kampanye penyuluhan di pondok pesantren mitra.
Kegiatan ini telah berlangsung dari April hingga Oktober 2025 dan melibatkan 1 dosen dan 3 mahasiswa keperawatan gigi sebagai enumerator serta 30 peserta terdiri dari 4 ustadz dan 26 santri.
Evaluasi program dilakukan secara berkala untuk melihat dampaknya serta memastikan keberlanjutan kegiatan.
“Kami berharap metode ini dapat menjadi solusi nyata, konkret, dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesehatan gigi anak santri,” tutup Agus.
Comment