MAKASSAR, Mediain.id – Tim pengabdi dari Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Makassar menggelar kegiatan edukasi kesehatan bagi para kader PKK di Kelurahan Pabaeng-baeng, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, (05/10/2025)
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya para ibu, tentang kutu rambut serta cara pencegahan dan penanggulangannya menggunakan bahan alami.
Ketua Tim Pengabdi, Nurisyah menjelaskan bahwa kutu rambut merupakan ektoparasit hematofagus obligat yang hidup di rambut manusia dari berbagai usia, terutama anak-anak perempuan usia sekolah. Kondisi ini menyebabkan penyakit pediculosis yang dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun psikologis anak.
“Anak yang menderita pediculosis sering kali dijauhi oleh teman-temannya karena penyakit ini mudah menular melalui kontak langsung antar kepala dan rambut. Selain menimbulkan rasa gatal, infestasi kutu rambut juga dapat menyebabkan anemia dan gangguan tidur,” jelas Nurisyah, Selasa (12/11/2025) melalui keterangan tertulis.
Menurutnya, pedikulosis kapitis tidak hanya menimbulkan rasa gatal di kulit kepala, tetapi juga dapat menyebabkan infeksi sekunder akibat garukan berulang. Pada anak sekolah, kondisi ini bahkan bisa menurunkan konsentrasi belajar karena rasa tidak nyaman, lesu, dan mengantuk akibat anemia.
Kegiatan edukasi ini dilakukan di wilayah Kelurahan Pabaeng-baeng yang dikenal padat penduduk dan memiliki sejumlah sekolah dasar. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan orang tua siswa, diketahui bahwa masyarakat belum pernah mendapatkan sosialisasi mengenai kutu rambut, cara pencegahan, maupun pengobatan yang aman bagi anak.
“Melihat kondisi tersebut, kami menjadikan kader PKK sebagai mitra sasaran karena mereka memiliki peran strategis untuk menyebarkan pengetahuan kepada masyarakat sekitarnya,” terang Nurisyah.
Dalam kegiatan yang diikuti oleh 35 kader PKK, tim pengabdi memberikan penyuluhan dan membagikan leaflet berisi informasi tentang bahan alami yang dapat digunakan untuk membasmi kutu rambut, seperti minyak kelapa, bawang merah dan putih, daun sirsak, serta jeruk nipis.
Selain itu, peserta juga diedukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan pribadi anak agar terhindar dari penularan kutu rambut. Untuk mengukur efektivitas kegiatan, tim melakukan pre-test dan post-test kepada peserta.
“Hasilnya cukup menggembirakan. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 4,23 menjadi 9,66, atau dari 42,3 persen menjadi 96,6 persen setelah edukasi. Ini menunjukkan peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan,” ungkap Nurisyah.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat berdampak langsung dalam menekan kasus kutu rambut pada anak serta mendorong masyarakat menggunakan bahan alami yang aman.
“Harapan kami, setelah edukasi ini para kader dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya dalam menjaga kebersihan rambut dan mencegah penyebaran kutu,” tutupnya.
Adapun anggota tim pengabdi yang turut terlibat dalam kegiatan ini yaitu Asyhari Asyikin, Artati, dan Rusdiaman. Selain peningkatan pengetahuan masyarakat, luaran kegiatan juga mencakup publikasi di media online, pembuatan leaflet, dan pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Comment