Oleh: Ketua DPD Persatuan Olahraga Pernapasan Indonesia (PORPI) Sulawesi Selatan, Mashud Azikin.
MAKASSAR, Mediain.id – Dalam sebuah diskusi kesehatan pekan lalu, seorang dokter geriatri menyampaikan pesan yang sederhana tetapi sarat makna: “Olahraga yang paling sesuai untuk lansia adalah berenang dan senam pernapasan.” Sekilas pernyataan ini tampak biasa, namun jika dicermati, ia merupakan jawaban atas tantangan besar mengenai bagaimana menjaga kualitas hidup di usia senja.
Seiring meningkatnya angka harapan hidup di Indonesia, pertanyaan tentang bagaimana menua dengan sehat semakin relevan. Tubuh lansia mengalami penurunan massa otot, kelenturan sendi, dan kapasitas paru. Tidak semua olahraga aman untuk kondisi ini, sehingga setiap pilihan aktivitas fisik harus mempertimbangkan manfaat sekaligus risikonya.
Di titik inilah senam pernapasan menemukan relevansinya.
Bernapas memang aktivitas otomatis, namun bagi lansia, kualitas napas dapat menentukan ketahanan tubuh, kejernihan pikiran, hingga kestabilan emosi. Dengan bertambahnya usia:
Elastisitas paru menurun, gerak dada menjadi lebih kaku, otot pernapasan melemah.
Akibatnya, suplai oksigen ke otak dan organ vital ikut berkurang. Senam pernapasan hadir sebagai latihan sederhana namun efektif untuk melatih tubuh bernapas lebih dalam, teratur, dan penuh kesadaran.
Penelitian menunjukkan bahwa latihan pernapasan yang dilakukan secara teratur dapat:
Meningkatkan kapasitas paru dan kekuatan diafragma
- Mengurangi stres dan kecemasan
- Melancarkan sirkulasi darah
- Membantu mengontrol tekanan darah
- Memperbaiki kualitas tidur
Manfaat-manfaat ini menjadikan senam pernapasan sebagai metode murah, aman, dan mudah dilakukan untuk menjaga vitalitas lansia.
Ada alasan kuat mengapa dokter menyandingkan dua aktivitas ini. Berenang merupakan olahraga low-impact yang ramah sendi dan aman bagi lansia. Sementara senam pernapasan memperkuat sistem internal tubuh, terutama paru-paru dan ketenangan mental.
Jika digabungkan, keduanya menciptakan keseimbangan yang ideal:
kekuatan fisik bertemu kestabilan emosi.
Tak heran, banyak ahli menyebut kombinasi ini sebagai paket lengkap untuk lansia yang ingin tetap aktif tanpa memaksakan tubuh.
Salah satu kelebihan senam pernapasan adalah kemudahannya. Tanpa alat, tanpa biaya, cukup 10–15 menit setiap hari. Beberapa latihan dasar yang bisa diterapkan:
- Pernapasan Perut (Diaphragmatic Breathing)
Menarik napas melalui hidung hingga perut mengembang, lalu mengeluarkannya perlahan melalui mulut. - Pernapasan Berirama (4–2–4)
Tarik napas empat detik, tahan dua detik, embuskan empat detik. - Pernapasan Relaksasi
Tarikan napas panjang dengan fokus pada aliran udara, membantu merilekskan tubuh dan pikiran.
Latihan-latihan sederhana ini mampu memberikan perubahan nyata setelah dilakukan secara konsisten.
Pada akhirnya, pesan dokter tersebut mengingatkan kita tentang pentingnya kembali mengenal tubuh sendiri. Pernapasan bukan hanya proses biologis, tetapi gerbang menuju kualitas hidup yang lebih baik. Di usia lanjut, hadirnya ketenangan, kestabilan, dan kekuatan dalam bentuk yang sederhana sering menjadi kebutuhan utama.
Senam pernapasan adalah pengingat bahwa untuk menjaga kesehatan, kita tidak selalu membutuhkan olahraga berat atau teknologi canggih. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah kesediaan untuk menyadari tarikan napas kita sendiri.
Mungkin benar, seperti yang dikatakan sang dokter, bahwa rahasia hidup sehat saat menua terletak pada hal yang paling dekat dengan kita: napas itu sendiri.
Anggota PORPI Sulawesi Selatan yang rutin melakukan senam di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, adalah contoh nyata bahwa gerakan sederhana dapat membangun perubahan besar bagi kesehatan masyarakat.
Comment