Kabinet Keamanan Israel Setujui Rencana Kuasai Kota Gaza, Hamas Sebut Langkah Mundur dari Negosiasi
Jakarta, Mediain.id – Kabinet Keamanan Israel resmi menyetujui rencana militer untuk mengambil alih kendali penuh atas Kota Gaza. Keputusan ini diambil pada Jumat (8/8) pagi waktu setempat dan menandai babak baru dalam konflik yang telah berlangsung selama hampir dua tahun sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Kabar ini pertama kali dilaporkan jurnalis Timur Tengah, Barak Ravid, melalui platform X. Mengutip sumber dari pejabat Israel, Ravid menyebut militer Israel kini memusatkan persiapan untuk merebut Kota Gaza.
“Tujuannya adalah mengevakuasi seluruh warga sipil Palestina dari Kota Gaza ke kamp-kamp pusat dan wilayah lain sebelum 7 Oktober,” tulis Ravid.
Menurutnya, pasukan Hamas yang tersisa di dalam kota akan dikepung. Bersamaan dengan itu, militer akan melancarkan serangan darat yang sudah mendapat lampu hijau dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan untuk tahap operasional akhir.
Syarat Akhiri Perang
Mengutip The Times of Israel, mayoritas anggota kabinet mendukung lima syarat utama untuk menghentikan operasi militer di Gaza:
Pelucutan senjata Hamas sepenuhnya.
Pemulangan 50 sandera, termasuk 20 orang yang diyakini masih hidup.
Demiliterisasi Jalur Gaza agar tidak lagi digunakan untuk kepentingan militer.
Kontrol keamanan Israel atas wilayah tersebut.
Pembentukan pemerintahan sipil baru yang tidak berasal dari Hamas maupun Otoritas Palestina.
Kantor Perdana Menteri Israel dalam pernyataan resminya menegaskan, meski operasi militer akan berlanjut, bantuan kemanusiaan tetap akan disalurkan kepada warga sipil di luar zona pertempuran.
Respons Keras Hamas
Di sisi lain, Hamas mengecam keras rencana pengambilalihan Kota Gaza tersebut. Kelompok militan Palestina itu menilai langkah Netanyahu sebagai pukulan telak terhadap proses negosiasi gencatan senjata yang disebut sudah mendekati kesepakatan final.
“Pernyataan Netanyahu merupakan pembalikan arah yang jelas dari jalur negosiasi dan mengungkap motif sebenarnya di balik penarikannya dari putaran akhir,” kata perwakilan Hamas.
Hamas juga menuduh Netanyahu sengaja mengorbankan nasib para sandera demi kepentingan politik pribadi dan agenda ideologis yang dianggap ekstrem.
Latar Belakang Konflik
Konflik bersenjata antara Israel dan Hamas kembali memanas sejak serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan ratusan warga Israel dan menyandera puluhan lainnya. Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer skala besar ke Jalur Gaza yang hingga kini telah menimbulkan korban jiwa puluhan ribu warga Palestina dan kerusakan infrastruktur luas.
Meski berbagai upaya mediasi telah dilakukan oleh pihak internasional, termasuk Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, jalan menuju kesepakatan damai masih terjal. Situasi di Gaza pun terus memburuk, dengan krisis kemanusiaan yang semakin parah akibat blokade dan pertempuran berkepanjangan.
Keputusan terbaru kabinet Israel ini dinilai sejumlah analis sebagai sinyal bahwa Tel Aviv bersiap melangkah ke fase operasi militer yang lebih agresif. Namun, langkah tersebut berpotensi memperdalam ketegangan dan mengurangi peluang tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat.
Comment