
MAKASSAR — Kelompok pemuda dari berbagai elemen di Sulawesi Selatan menyatakan komitmen bersama untuk menjaga keamanan, memperkuat persaudaraan, dan merawat perdamaian melalui Ikrar Damai Makassar–Damai Sulawesi Selatan. Deklarasi yang dihadiri Kapolda Sulawesi Selatan, Pangdam XIV/Hasanuddin, serta ribuan peserta tersebut menjadi momentum penting untuk menyatukan langkah pemuda dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan di Sulawesi Selatan.
Mochammad Prima Deka selaku inisiator menegaskan bahwa ikrar damai ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal untuk membangun kesadaran kolektif bahwa pemuda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga daerahnya.
Menurutnya, energi dan solidaritas pemuda harus diarahkan pada kegiatan positif yang memperkuat persatuan, bukan justru menjadi sumber perpecahan.
“Ikrar damai ini adalah komitmen moral kita bersama. Pemuda Sulawesi Selatan harus menunjukkan bahwa kita mampu menjaga kehormatan, merawat persaudaraan, dan menjadi bagian dari solusi. Perdamaian tidak cukup diucapkan di atas panggung, tetapi harus dibuktikan melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Mochammad Prima Deka.
Sementara itu, Putra Pratama Ramadhan selaku ketua panitia menyampaikan bahwa terselenggaranya kegiatan tersebut merupakan wujud keseriusan berbagai elemen pemuda dalam membangun ruang kebersamaan dan memperkuat komitmen menjaga keamanan daerah.
Ia berharap, semangat yang terbangun dalam deklarasi tersebut tidak berhenti setelah acara berakhir, tetapi berlanjut menjadi gerakan bersama yang mampu menjangkau berbagai komunitas dan kelompok pemuda di Sulawesi Selatan.
“Kami ingin kegiatan ini meninggalkan jejak, bukan sekadar kesan. Apa yang kita ikrarkan hari ini harus menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga persaudaraan, menghindari konflik, dan membangun masa depan Sulawesi Selatan yang lebih damai,” demikian pesan yang ingin ditegaskan panitia.
Testimoni juga datang dari Tegar bersama rekan-rekannya yang merupakan alumni SMPN Batua. Mereka menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kapolda Sulawesi Selatan atas program yang dinilai membuka ruang bagi pemuda untuk kembali membangun hubungan yang lebih baik.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Kapolda atas program yang menurut kami menjadi jalan untuk kembali menjadi lebih baik. Kegiatan ini mengingatkan kami bahwa persaudaraan jauh lebih penting daripada perbedaan. Kami berharap momentum ini menjadi awal untuk memperbaiki hubungan, memperkuat kebersamaan, dan menjaga perdamaian bersama,” ungkap Tegar mewakili rekan-rekannya.
Dukungan terhadap gerakan perdamaian tersebut juga datang dari Farham Jamaluddin alias Lala, utusan dari Kabupaten Gowa. Ia menilai semangat Ikrar Damai Makassar perlu diperluas agar pesan persatuan dan komitmen menjaga keamanan dapat dirasakan oleh lebih banyak kelompok pemuda di daerah.
“Insyaallah, kami juga akan berinisiatif mendorong kegiatan serupa di Kabupaten Gowa. Perdamaian tidak boleh hanya menjadi gerakan di Makassar, tetapi harus menjadi semangat bersama di seluruh Sulawesi Selatan. Kami ingin pemuda di Gowa ikut mengambil bagian dalam merawat persaudaraan dan menjaga daerah agar tetap aman dan kondusif,” ujar Farham.
Bagi para pemuda yang terlibat, Ikrar Damai Makassar–Damai Sulawesi Selatan menjadi pengingat bahwa perdamaian membutuhkan keberanian untuk mengendalikan diri, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, serta kesediaan untuk membangun kembali hubungan yang sempat merenggang.
Kehadiran Kapolda Sulawesi Selatan dan Pangdam XIV/Hasanuddin bersama ribuan peserta juga menjadi simbol pentingnya kolaborasi antara aparat keamanan dan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis.
Kini, tantangan sesungguhnya berada setelah deklarasi berakhir: memastikan ikrar tidak berhenti sebagai rangkaian kata, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata. Sebab, masa depan perdamaian Sulawesi Selatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa lantang pemuda mengucapkan ikrar, melainkan seberapa teguh mereka menjaga komitmen tersebut ketika kembali ke lingkungan masing-masing.
Comment