PENAMPILAN SULIS “CINTA RASUL” DI KMI 2026 MENEGASKAN MUSIK RELIGI SEBAGAI KEKUATAN DAKWAH DAN KEBUDAYAAN

Makassar, 30 Oktober 2026 – Penampilan penyanyi religi Sulis dengan lagu ikonik Cinta Rasul pada malam puncak Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 di Makassar menjadi salah satu momentum yang menarik perhatian dalam perhelatan musik nasional tersebut.

Penampilan ini bukan sekadar menghadirkan nostalgia musik religi yang telah melekat di tengah masyarakat Indonesia, tetapi juga mengingatkan kembali bahwa musik memiliki ruang penting dalam menyampaikan nilai-nilai spiritual, kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta pesan moral dan kemanusiaan.

Pimpinan Wilayah Perisai Syarikat Islam Sulawesi Selatan memandang kehadiran Sulis dalam malam puncak KMI 2026 sebagai representasi penting dari eksistensi musik religi dalam khazanah musik Indonesia. Musik religi bukan hanya bagian dari industri hiburan, melainkan juga medium dakwah, pendidikan moral, dan ekspresi kecintaan umat terhadap nilai-nilai keislaman.

Lagu Cinta Rasul memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan musik religi Indonesia. Melalui lantunan yang sarat makna spiritual, lagu tersebut menghadirkan pesan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkenalkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah kepada berbagai generasi.

Momentum KMI 2026 juga semakin menarik dengan pandangan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, yang mendorong seni menjadi jembatan harmoni lintas iman.

Gagasan Menteri Agama tersebut memberikan perspektif bahwa seni dan musik mempunyai kekuatan untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kebudayaan. Musik dapat menjadi bahasa kemanusiaan yang membangun ruang dialog, saling menghormati, dan memperkuat persaudaraan dalam kehidupan berbangsa.

Perisai Syarikat Islam menilai bahwa pesan tersebut perlu dipahami secara proporsional. Membangun harmoni lintas iman bukan berarti mencampuradukkan ajaran dan keyakinan agama, melainkan membuka ruang kebudayaan untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan.

Dalam konteks Islam, musik religi juga memiliki karakter dan identitas tersendiri. Nilai-nilai tauhid, kecintaan kepada Rasulullah SAW, akhlak, serta pesan kebaikan menjadi substansi yang dapat disampaikan melalui ekspresi seni.Menjaga Eksistensi Musik Religi di Tengah Industri Musik Modern.

Di tengah perkembangan industri musik yang semakin dinamis, Perisai Syarikat Islam berpandangan bahwa musik religi perlu mendapatkan ruang yang lebih luas dalam ekosistem kebudayaan nasional.Musik religi tidak boleh hanya hadir pada momentum hari besar keagamaan atau kegiatan seremonial. Sebaliknya, musik religi harus terus dikembangkan sebagai bagian dari kreativitas generasi muda, penguatan identitas kebudayaan, serta sarana penyebaran nilai-nilai moral dan spiritual.

Penampilan Sulis dengan Cinta Rasul pada malam puncak KMI 2026 menjadi pengingat bahwa karya musik yang memiliki kedalaman pesan dan nilai spiritual mampu bertahan melintasi generasi.Oleh karena itu, Perisai Syarikat Islam mendorong agar konferensi musik nasional seperti KMI tidak hanya membicarakan aspek industri, komersialisasi, dan perkembangan teknologi musik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap keberlanjutan musik religi dan kontribusinya bagi pembentukan karakter bangsa.

Musik sebagai Dakwah, Kebudayaan sebagai Ruang PersaudaraanPerisai Syarikat Islam meyakini bahwa dakwah tidak hanya berlangsung melalui mimbar dan ruang-ruang pengajian, tetapi juga dapat hadir melalui kebudayaan dan karya seni yang membawa pesan kebaikan.Musik religi menjadi salah satu medium yang dapat mendekatkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat melalui pendekatan yang kreatif, komunikatif, dan menyentuh dimensi emosional manusia.

KMI 2026 di Makassar diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat posisi musik Indonesia sebagai kekuatan kebudayaan sekaligus memperluas ruang apresiasi terhadap karya-karya religi.Sebab musik tidak hanya tentang nada dan suara. Di dalamnya terdapat pesan, identitas, nilai, dan peradaban.

Musik religi mengajarkan kecintaan kepada Tuhan dan Rasul-Nya, sementara seni membuka ruang persaudaraan antarmanusia.

Perisai Syarikat Islam berharap semangat tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan musik Indonesia: berkemajuan dalam kreativitas, kuat dalam identitas, dan tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual serta kemanusiaan.

Comment