MAKASSAR, Mediain.id – Gelombang aksi massa yang marak di berbagai daerah dinilai bukan sekadar ledakan emosional, tetapi gejala serius dari akumulasi kejanggalan dalam praktik bernegara.
Hal itu disampaikan Presidium MW KAHMI Sulsel sekaligus Anggota Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI, Prof. Mustari Mustafa.
Menurutnya, rakyat yang turun ke jalan lahir dari rasa keadilan publik yang semakin terkoyak. Ia menilai sejumlah kejanggalan nyata memperlihatkan lemahnya kepemimpinan dan rapuhnya etika berpolitik.
Mustari mencontohkan, mulai dari perubahan konstitusi yang sarat kepentingan elite, kepemimpinan yang tidak profesional, hingga praktik hukum yang justru dipertontonkan bak sandiwara di hadapan publik.
“Kenaikan pajak yang berbarengan dengan kenaikan gaji DPR serta respons anggota dewan yang justru menari-nari di depan publik semakin menambah luka rakyat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tindakan represif aparat dalam menghadapi demonstrasi, yang menurutnya justru menambah keresahan dan kekecewaan publik.
Dalam analisis politiknya, Mustari merujuk pada teori Max Weber dan Antonio Gramsci. Ia menilai negara saat ini kehilangan legitimasi legal-rasional karena hukum tidak lagi konsisten dan adil. Di sisi lain, aksi jalanan mahasiswa dan masyarakat muncul sebagai bentuk counter-hegemony atau koreksi moral terhadap kekuasaan yang menyimpang.
“Plato sudah mengingatkan sejak lama, negara tanpa keadilan akan hancur oleh kontradiksinya sendiri. Apa yang kita saksikan hari ini adalah kontradiksi itu,” tambahnya.
Lebih jauh, Prof Mustari mengingatkan Presiden Prabowo agar tidak menganggap fenomena ini sebagai gejolak rutin. Ia menyebut aksi sosial yang merebak saat ini sebagai alarm serius kepemimpinan nasional.
“Jika alarm ini diabaikan, legitimasi politik akan runtuh, dan rakyat semakin yakin negara tercerabut dari kontrak sosialnya. Namun jika Presiden hadir proaktif, memberi arahan moral pada aparat, dan membuka dialog dengan mahasiswa serta rakyat, sejarah akan mencatat beliau sebagai negarawan sejati,” ujarnya.
Mustari menegaskan, bangsa ini sedang menanti sosok pemimpin yang berani hadir bersama rakyat, bukan sekadar berlindung di balik protokol maupun pagar istana.
“Sejarah sedang mengetuk pintu kepemimpinan Presiden Prabowo. Alarm ini jangan diabaikan, karena sekali kepercayaan rakyat runtuh, memulihkannya tidak akan mudah,” tutupnya.
Comment