Air Mata Muh Arzil di Gowa: Kehilangan Ayah dan Ibu Sejak Kecil, Kini Menggantungkan Harapan pada Sekolah Rakyat

Gowa, Media ini.id – Di sebuah rumah sederhana di Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa, tersimpan kisah pilu seorang anak yatim piatu bernama Muh Arzil. Di usianya yang masih belia, siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Parangloe itu harus menjalani hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua.

Ibunya meninggal dunia saat dirinya masih duduk di bangku kelas 6 SD. Sementara sang ayah pergi meninggalkan rumah tanpa kabar sejak Arzil masih balita. Sejak saat itu, hari-harinya dihabiskan bersama sang nenek yang hidup dengan segala keterbatasan.

Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sulit, harapan Muh Arzil untuk tetap melanjutkan pendidikan nyaris redup. Namun secercah cahaya datang melalui program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah untuk membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa mengenyam pendidikan secara layak dan gratis.

Harapan itu hadir saat Pendamping Sumber Daya Manusia Program Keluarga Harapan (SDM PKH) Kecamatan Parangloe, Muhammad Fadhil, melakukan penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat di Desa Belapunranga, Jumat (15/5/2026).

Program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia agar seluruh pendamping SDM PKH aktif turun langsung ke lapangan menjangkau anak-anak dari keluarga kategori Desil 1 dan 2 dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).

Arahan itu disampaikan oleh Direktur Perlindungan Sosial Non-Kebencanaan Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI, Faisal, SST, M.Si, kepada seluruh pendamping SDM PKH di Indonesia agar tetap bergerak tanpa mengenal hari libur demi memastikan tidak ada anak dari keluarga miskin yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

Saat mengunjungi rumah Muh Arzil, Muhammad Fadhil menyaksikan langsung bagaimana anak tersebut hidup dalam keterbatasan namun tetap menyimpan semangat besar untuk terus sekolah dan menggapai cita-cita.

“Melalui penjangkauan ini kami ingin memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan informasi dan kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat. Ini merupakan bentuk kepedulian negara agar tidak ada anak yang putus sekolah karena keterbatasan biaya,” ujar Muhammad Fadhil.

Bagi keluarga Muh Arzil, kehadiran program Sekolah Rakyat menjadi harapan baru yang selama ini terasa begitu jauh untuk diraih. Sang nenek, Muliati, tak mampu menyembunyikan rasa harunya ketika mendengar cucunya berpeluang melanjutkan pendidikan secara gratis.

“Kami sangat bersyukur ada perhatian seperti ini dari pemerintah. Semoga Muh Arzil bisa mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan dan meraih cita-citanya,” ungkap Muliati dengan mata berkaca-kaca.

Di balik senyum malunya, Muh Arzil juga menyimpan harapan besar. Ia ingin terus sekolah agar kelak bisa mengubah nasib keluarganya dan membalas perjuangan sang nenek yang selama ini merawatnya penuh kasih sayang.

“Saya ingin terus sekolah dan membanggakan keluarga. Semoga saya bisa diterima di Sekolah Rakyat,” tutur Muh Arzil lirih.

Kisah Muh Arzil menjadi gambaran bahwa di balik keterbatasan dan kehilangan, masih ada harapan yang tumbuh melalui kepedulian negara terhadap pendidikan anak-anak kurang mampu. Program Sekolah Rakyat pun hadir bukan sekadar sebagai bantuan pendidikan, tetapi menjadi jalan harapan bagi mereka yang hampir kehilangan masa depan.

Comment